Rabu, 03 Mei 2017

Seri 1 : Ngono yo ngono ning ojo ngono

Pagi itu lalu lintas pada jam sibuk, semua kendaraan keluar rumah. Ada yang berangkat kerja, ada yang berangkat ke pasar, ada yang mengantar ke sekolah, dan yang paling dominan kendaraan yang dikendarai anak-anak sekolah untuk berangkat sekolah. Semua ingin cepat sampai tujuan, semua tidak ada yang mau terlambat sehingga tidak ada yang mau mengalah.

Saya melihat seorang bapak mengendarai motor membawa tiga anak sekaligus, semuanya laki-laki. Yang paling kecil di pangku di paha kiri (tanpa selendang), yang agak besar berdiri di depan, yang paling besar (berseragam sekolah) duduk di belakang, semuanya masih kecil-kecil. Sungguh pemandangan yang membuat miris campur haru (apa namanya). Sepintas dari raut wajah sang bapak, menunjukkan kejengkelan atau kemarahan. Dari caranya mengendari motor yang (meskipun tidak terlalu cepat) terkesan tidak mau mengalah dengan wajah yang mrengut tidak bersahabat.

Setiap orang mempunyai persoalan sendiri-sendiri. Tak satupun orang yang sedang tidak menghadapi masalah. Namun begitu tidak perlu merasa menjadi orang yang paling tersiksa atau terhina dalam hidupnya, sehingga merasa orang lain perlu memahaminya. Seperti kisah di atas, mungkin saja di rumahnya sedang terjadi persoalan sehingga perlu mengungsikan anak-anaknya ke rumah saudara, atau ke rumah neneknya. Tetapi harus tetap dengan cara-cara yang aman dan tidak menantang persoalan baru. Jika memang sedang stress atau sumpek, tapi jangan kemudian membuat anak-anak dalam bahaya. Pasti ada cara lain yang tentunya lebih baik dan tidak memberikan dampak yang kurang baik. Ngono yo ngono ning ojo ngono.

Selasa, 02 Mei 2017

Ngono yo ngono ning ojo ngono

Kalimat tersebut adalah ungkapan dalam bahasa jawa, yang maknanya meskipun begitu (boleh) tapi jangan begitu. Agak sedikit membingungkan, tapi itulah bahasa jawa, yang tentunya tidak terlepas dari kultur jawa dalam menyikapi berbagai persoalan yang cenderung mengarah pada dikotomi atau polaritas (benar-salah, iya-tidak, hitam-putih). 


Hal tersebut memberikan kesan bahwa orang jawa itu ambigu, tidak tegas atau plin plan. Tentu tidak begitu. Budaya jawa selalu mengedepankan pendekatan personal, mengutamakan kompromi, meletakkan urusan pada posisi tengah-tengah (istilahnya Steven Covey : Win Win Solution). Dalam agama (islam), konon katanya, sebaik-baik urusan adalah yang di tengah-tengah. 

Ungkapan tersebut kalau dibahasa-indonesiakan jadi "gak enak", BEGITU YA BEGITU TAPI YA JANGAN BEGITU. Apalagi dalam bahasa inggris (ngawur) : DO THAT YES DO THAT BUT DON'T DO THAT. Ada beberapa persoalan yang posisinya secara geografis  pada perbatasan dua wilayah yang saling bertentangan, sehingga sering menimbulkan persoalan baru yang cukup pelik untuk menyelesaikannya. Bisa hal berkaitan dengan tata tertib, kedisiplinan, aturan dan norma, dan lain lain. Kalimat tersebut sebagai bentuk ungkapan pemakluman terhadap persoalan, agar semuanya tetap bisa berjalan, tanpa saling menganggu apalagi beradu.


Misalnya, dalam tata kinerja pegawai atau karyawan, dimana karyawan harus datang di kantor setiap hari, tidak boleh melebihi pukul 07.00. Timbul persoalan, salah seorang karyawan yang cukup diandalkan (karena kemampuannya di bidang IT sangat dibutuhkan) setiap hari harus membagi tugas antara bekerja di kantor, menyelesaikan tugas kuliah (masih berstatus mahasiswa pasca-sarjana) dan menuntaskan tugas rumah (sebagai kepala keluarga). Hal itu menyebabkan dia sering datang terlambat, pulang lebih awal, bahkan beberapa kali tidak masuk kerja. Sesuai aturan jelas karyawan tersebut melanggar sehingga harus dipecat. Sebaliknya ketika karyawan tersebut tidak ada, maka aktivitas kantor bisa mandek, sementara untuk mendapatkan pengganti yang "siap" bekerja tidak mudah. Maka diambil jalan tengah, saling mengerti, ada toleransi, saling memahami persoalan masing-masing dan saling bertanggung jawab. Semua tetap bisa berjalan tidak saling menyakiti dan menghina. Bagi karyawan tetap harus menghormati aturan kedisiplinan, sementara pimpinan mengerti persoalan keluarga yang dihadapi karyawan dan maklum adanya, maka "ngono yo ngono ning ojo ngono". Bisa diterjemahkan "telat ya telat tapi jangan terus terusan telat", tetaplah berupaya untuk memperbaiki diri sesuati aturan, sehingga tidak menimbulkan saling iri diantara sesama karyawan.

Sikap seperti itu bukan satu-satunya jalan keluar, dan bukan yang terbaik. Karena yang terbaik itu relatif, tergantung siapa yang mengambil keputusan. Sedangkan setiap keputusan selalu mengandung resiko. Sehingga tergantung si pengambil keputusan mau mengambil resiko yang mana, yang kiri, yang tengah, atau yang kanan. TIADA KEPUTUSAN TANPA RESIKO

Kamis, 20 April 2017

SEMANGAT BER-KARTINI

Bulan april, bulan Kartini, bulannya para pejuang perempuan Indonesia. Kartini sebagi symbol perjuangan wanita di era yang menganggap perempuan sebagai pelengkap kehidupan kaum pria. Hingga saat ini kegigihan Kartini dalam berjuang meng-akualisasikan keberadaan kaum perempuan tetap menginspirasi para wanita jaman sekarang.


Kartini disimbolkan sebagai wanita pejuang yang berbudaya. Oleh karena itu sekedar mengingatkan apa yang telah diperjuangkan Raden Ajeng Kartini, para wanita (ibu2, para remaja, anak2) mengenakan busana tradisional jawa – kebaya. Bahkan sekarang meluas secara nasional dengan busana tradisional daerah masing-masing.


Termasuk hari ini (21 April 2017), mengikuti instruksi dari Kepala Cabang Dinas Pendidikan Sidoarjo, para guru dan seluruh karyawati di lingkungan sekolah mengenakan busana tradisional – kebaya. Peristiwa ini adalah pertama kalinya di SMANOR. Sebuah pemandangan yang membuat semua orang dan siswa “wouw” (excited), melihat ibu-ibu guru tampil berbeda menjadi semakin beriwibawa dan cantik-cantik.

Tentu saja hal itu menarik minat para siswa untuk mengajak foto bersama – dasar anak/orang sekarang sukanya selfie – dengan berbagai pose dan gaya. Para ibu-ibu yang sudah berdandan rapi tentu saja dengan senang hati mengiyakan ajakan anak-anak yang manja itu.  Maka pagi itu yang semestinya kegiatan pembelajaran untuk sesaat dikorbankan untuk memperingati hari Kartini – caranya Cuma foto-fotoan.


Namun sayang, dari sekian guru dan karyawati yang ada di SMANOR hanya ada empat ibu-ibu yang tampil berbusana Kartini. Antara lain : Bu Kutsiyah, Bu Niniek, Bu Utami, dan Bu Nia. Namun demikian hal itu tidak mengurangi kegembiraan dan kehebohan anak-anak dalam berfoto-ria dengan para Kartini Smanor
.


Kartini tetaplah Kartini, meskipun saat ini exixtensi wanita sudah bukan lagi pelengkap laki2 – seperti masanya Kartini – tetapi peringatan itu tetap actual untuk diadakan. Meskipun anak2 perempuan sekarang, meskipun siswa2 perempuan SMANOR kontribusinya sudah setara dengan kaum pria, peringatan hari Kartini (Kartini-an) tetap menarik untuk dilaksanakan. Setidaknya peringatan itu sebagai ungkapan terima kasih pada sang Raden Ajeng yang telah membuka cakrawala perempuan Indonesia sehingga saat ini semua wanita Indonesia telah menjadi pejuang perempuan di dunianya masing-masing


Harapannya perjuangan Kartini terus berlanjut bukan sekedar memperjuangkan hak perempuan, tetapi memperjuangkan martabat manusia seluruhnya dalam bingkai kemasyarakatan yang beradab, berbudaya dengan menjujung akhlakul karimah.


Demikian juga peringatan Kartinian ini tidak terbatas pada guru dan karyawati tetapi juga pada siswa dan semua elemen yang ada di smanor.

(patoyo.media.kom)



Minggu, 26 Juni 2016

Gaya Inti


Menurut teori fisika di dalam inti atom ada gaya yang mengikat partikel-partikel penyusun inti yang disebut gaya inti. Gaya ini bersifat sangat unik dan berbeda dengan gaya-gaya yang lain. Gaya inti merupakan gaya yang paling besar diantara gaya-gaya yang lain. Karakter yang unik dari gaya inti adalah gaya ini tidak tergantung secara linier ataupun eksponensial terhadap jark. Jika partikel penyusun inti adalah bermuatan listrik, logikanya (seperti teori coulomb) gaya inti akan berbanding kuadrat terhadap jarak, tetapi tidak demikian dengan gaya inti.

Memang besarnya gaya bergantung jarak tetapi sulit dijelaskan secara konsisten. Gaya inti akan semakin besar jika jaraknya mengecil, tetapi semakin kecil jarak hingga sangat dekat, gaya menjadi melemah dan akan berbalik menjadi saling tolak menolak. Partikel akan saling tertolak dengan gaya sangat besar pada jarak yang sangat dekat, semakin jauh gaya tolak mengecil dan semakin kecil hingga pada jarak tertentu berubah menjadi gaya tarik, begitu seterusnya.
Pernahkan anda mengalami hal demikian dalam hidup dengan orang tertentu?
Ketika berdekatan cenderung "congkrah" atau bertengkar, selalu tidak sepakat dan berbeda pendapat. Setiap hari bertemu tidak menjadi hangat dekat dan akrab, tetapi semakin 'hangat' kebablasan menjadi panas dan akhirnya salah paham. Akibatnya menjauh. Ketika berjauhanpun tidak menjadikan dirinya tenang, yang terjadi malah 'kelimpungan' ingin bertemu, kangen. Semakin lama, semakin jauh keinginan atau gaya untuk saling mendekat semakin besar.
Persis karakter gaya yang ada pada inti atom.
Jika anda mengalami yang demikian tidak perlu gusar, itulah inti. Inti atom, yang mungkin juga inti dari kehidupan, inti dari sebuah cinta. Tidak pernah ada inti atom hancur karena gaya inti yang bekerja pada dirinya sendiri, sebaliknya meskipun gayanya fluktuatif tetap saja menyatu dalam inti. Demikian halnya dengan di kehidupan kita, jika mengalami pasang surut seperti di atas berarti hubungan anda adalah hubungan yang sejati, hubungan yang semestinya, cinta sejati (begitu ata Ainun - Habibie)
Selamat berpuasa

Jumat, 26 Februari 2016

Hukum Kekekalan Energi

Hukum kekekalan energi menyatakan bahwa energi di alam ini tetap atau konstan, tidak berkurang ataupun bertambah. Yang terjadi hanyalah perubahan energi dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Bunyi berubah menjadi panas, atau listrik berubah menjadi bunyi kemudian menjadi panas, atau panas menjadi mekanik kemudian menjadi listrik dan panas, dan lain lainnya.

Kita sering salah dalam memandang dan menilai sebuah peristiwa. Lebih tepatnya manusia memiliki keterbatasan dalam melihat sebuah peristiwa. Dalam kehidupan ini ada sebuah nilai obyektif yang sifatnya mutlak tidak bertambah ataupun berkurang. Mirip dengan energi hanya dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Sedangkan manusia hanya berupaya mengambil keuntungan atau mengambil manfaat pada satu sisi atau satu bentuk saja. Kita sejak kecil terbiasa dengan pola pendidikan yang memberikan penilaian pada satu sisi - itu cocok untuk anak kecil - seiring perkembangan psikologis hal itu tidak ada upaya menyesuaikan. 

Sewaktu saya kecil, desa atau wilayah yang lebih utara dari tempat tinggal saya dianggap lebih buruk, lebih terbelakang, lebih tertinggal, karena semakin jauh dari pusat kota. Sebaliknya yang berada di tempat lebih dekat ke arah kota dianggapnya lebih baik, lebih maju, dan lebih bernilaiatau lebih bergengsi. Pandang sebuah tempat yang terletak antara Bandung dan Jakarta. Jika suatu tempat tersebut semakin jauh dari Bandung, bukankah tempat itu semakin dekat dengan Jakarta. Sebaliknya jika tempat itu semakin jauh dari Jakarta akan semakin dekat ke Bandung?. Secara geografis bumi itu bulat jika bergerak ke utara terus menerus munculnya akan ke selatan, demikian pula sebaliknya. Itulah pola pikir anak kecil, belum mampu memandang luas dan jauh.

Namun demikian, tidak sedikit orang yang masih terbawa pola pikir anak kecil yang melihat atau menilai sesuatu hanya dari satu sudut pandang yang sempit. Pola pikir yang hanya menilai dari apa yang nampak - secara lahiriah saja - pola pikir yang tanpa melihat latar belakang dan 'gandeng rentengnya' keadaan atau peristiwa. Orang yang berpenampilan rapi bersih harum, menggunakan mobil mewah nan mengkilap, dianggapnya lebih pantas di hormati, Orang yang terkenal, wajahnya rupawan, bicaranya meyakinkan dianggap lebih mulia, lebih berderajat, dan lebih bahagia hidupnya. Setiap kelebihan pada satu sisi akan mengakibatkan kekurangan pada sisi yang lain. Ada istilah, "ada harga yang harus dibayar pada setiap kesuksesan". Sehingga janganlah memandang sebuah kesuksesan hanya bentuk suksesnya saja. Janganlah memandang seorang juara dengan hanya melihat kehebetannya, hanya meng-irikan pada kekayaannya dan ketermashurannya, tetapi pandangnlah usahanya sejak lama, lihatlah sulitnya mengelola kekayaan yang ternyata tidak sederhana, lihatlah rumitnya hidup sebagai bintang (aris) terkenal,serta bagaimana me-manaj diri agar bisa hidup normal - layaknya manusia normal. Banyak contoh di negeri ini, bagaimana orang yang tidak mampu mengelola diri dengan baik karena ketermashurannya hingga akhirnya terpuruk.

Jadi, intinya jika hidup berjalan secara baik, maka tidak akan ada yang hilang dan tidak akan ada yang bertambah. Kelebihan pada satu sisi akan mengurangi pada sisi yang lain, sebaliknya jangan risau jika kehilangan atau kekurangan pada salah satu sisi, karena akan dilebihkan pada segi yang lain. Seperti hukum kekekalan energi di dalam pelajaran fisika, tidak ada energi yang hilang, hanya berubah bentuk dari bentuk energi yang satu ke bentuk energi yang lain. Demikian halnya dengan keadaan seseorang, jika pada satu sisi terdapat kelebihan, maka sisi yang lain pasti ada kekurangan. Tugas sulit dan berat dalam hidup ini adalah mencari keseimbangan di antara dinamika kehidupan. Tidak ada energi yang satu lebih penting dari energi yang lain, tetapi keberadaan energi tersebut disesuaikan dengan kebutuhan.



Selasa, 24 Maret 2015

Hukum Ketiga Newton

Hukum ketiga Newton menyatakan bahwa gaya aksi sama dengan reaksi. Gaya-gaya disebut sebagai pasangan aksi dan reaksi, ketika kedua gaya itu berlawanan arah dan berasal dari titik yang berbeda. Di sekolah menengah sering dicontohkan benda yang diletakkan di atas permukan lantai mendatar, maka berat benda secara otomatis akan menekan - memberikan gaya - pada lantai, sehingga ada gaya dari benda ke arah lantai. Maka sebagai reaksi, dari lantai akan ada gaya normal yang mengarah ke benda. Menurut Newton besarnya gaya aksi selalu sama dengan gaya reaksi, dan gaya reaksi muncul setelah ada aksi, dan besarnya selalu sama.
Tidak terasa, kita setiap hari, secara sengaja atau tidak sengaja selalu beraksi dan tentu aksi yang kita lakukan mengarah pada pihak tertentu yang direspon oleh pihak lain sebagai bentuk reaksi. Sesuai dengan hukum ketiga Newton, jika aksi kita kecil, samar-samar, tidak telalu mencolok, maka reaksi yang muncul juga tidak tampak secara jelas. Lain halnya jika kita beraksi dengan keras dan terang-terangan atau frontal, maka tentu reaksi yang muncul juga akan keras.

Tetapi kita adalah manusia yang memiliki kekuatan atau potensi non fisik seperti otak, pikiran, perasaan, nafsu, hati, atau ruh, atau apalah istilahnya, segala potensi non fisik yang akan mengendalikan segala tingkah laku manusia. Sehingga tidak semestinya manusia melulu seperti benda (mati) yang hanya bereaksi ketika ada aksi, yang hanya bertindak ketika ada perintah atau komando. Dengan potensi pikiran dan perasaan manusia harus lebih proaktif terhadap segala sesuatu, bukan menjadi reaktif. Tanpa sebabpun seharusnya manusia bertindak dan berlaku menurut pikiran dan perasaan, bisa membedakan mana yang baik dan tidak dan mana yang perlu dan tidak perlu.
Menurut Steven Coevy, dalam bukunya Seven Habit Highly efektif, salah satu habit atau kebiasan pertama yang harus ada pada seseorang agar menjadi manusia yang efektif adalah proaktif. Proaktif adalah bertindak sesuai prosedur, bertindak sesuai aturan, bertindak sesuai undang-undang, bertindak sesuai kitab suci pegangan hidup. Jika aturan sebagai pegawai kita harus datang jam tujuh, maka kita datang jam tujuh. Tidak perlu menunggu dipanggil atasan, tidak perlu terpengaruh teman2 yang suka terlambat. Sehingga muncul pikiran, "yang lain datang terlambat tidak apa-apa", yang seperti itu tidak perlu dihiraukan, jadilah pribadi yang efektif, jadilah proaktif. Tidak perlu menunggu atasan marah, tidak perlu diperingatkan, baru melakukan. Sayangnya terlalu banyak orang reaktif di sekeliling kita, sehingga segala sesuatu menjadi lambat dan sangat tidak efektif.

Sabtu, 07 Februari 2015

Jangan Gelisah


Allah berfirman dalam sebuah hadits qudsi - yang pernah saya dengar - yang isinya kira-kira, "Wahai anak adam mengapa kamu gelisah dan risau, padahal segala kebutuhanmu pasti aku cukupkan, dan mengapa kamu berfoya-foya dan bersuka cita secara berlebihan, padahal umurmu semakin berkurang". Ada dua urusan yang disorot dalam hadits qudsi tersebut, yaitu urusan rejeki dan urusan umur.
Aktivitas orang setiap hari adalah bekerja - baik di kanor maupun di lapangan / lahan - untuk mencari nafkah, jelasnya untuk makan. Karena setiap 2 atau 3 jam - yang kuat bisa sampai 6 jam - perut manusia mulai terasa perih, lapar, dan minta diisi. Oleh karena itu manusia berusaha memenuhinya dengan mencari makanan, atau membeli, atau membuat / memasak. Tetapi, perkembangan budaya membimbing manusia untuk tidak hanya mencari makanan untuk saat itu atau hari itu. Melainkan juga membuat persediaan untuk makan nanti malam, esok hari, bulan depan, tahun depan, nanti kalau sudah pensiun, bahkan untuk anak cucunya, dan untuk tujuh keturunan berikutnya dan seterusnya. Semacam tidak percaya bahwa anak cucunya kelak bisa memiliki rejeki sendiri, hal itu yang disorot hadis di atas.
Sehingga orang rela, melakukan berbagai upaya bahkan menghalalkan segala cara untuk menimbun dan mengumpulkan harta sebanyak mungkin, tidak peduli nabrak sana nabrak sini yang penting meraup dan meraup. Mungkin hal itu yang menghinggapi para pemegang otoritas di negeri yang korup, merasa gelisah dengan kebutuhan makannya hari ini besok minggu depan tahun depan, makan anak dan cucunya, sehingga perlu dipersiapkan sekarang dngan ditimbun ditumpuk-tumpuk. Ternyata hal itu tidak cukup membuat dirinya cukup nyaman dan tenteram, masih saja gelisah dan risau.
Seolah tidak percaya bahwa Allah akan mencukupinya, seperti ulat di bawah ini. Ulat ini sudah beberapa hari - setahu saya 3 hari - sendirian di pohon jeruk kecil yang tumbuh dengan sendirinya di depan teras rumah. Pohon - belum jadi pohon cuma cukulan - jeruk itu tingginya kira-kira 10 cm daunnya tidak sampai 10 lembar, tetapi rupanya cukup menghidupi seekor ulat berwarna hijau panjangnya kira2 2 cm. Setiap hari saya mengamatinya, dan setiap hari saya bertanya-tanya, 
"Siapa juga yang menaruh ulat di situ",
"Kenapa memilih di pohon kecil, padahal di atasnya ada pohon klengkeng yang lebih besar", pohon klengkeng yang belum lama saya tanam itu daunnya sama sekali tidak ada ulatnya.
"Apa cukup daunnya untuk kebutuhan makannya seumur hidup"
"Apakah nantinya akan disitu terus"
"Teman lainnya kemana, kok sendirian, memang sih lebih baik sendirian kan daunnya cuma sedikit".
Bagi yang percaya dengan hadits di atas, akan berkata, "ulat saja yang sekecil dan seremeh itu diberikan rejeki, disediakan makanan sesuai dengan kebutuhannya". Karena ia ulat jeruk - berwarna hijau kepalanya seperti berhelm - maka diberikan ia daun jeruk, tidak ditaruh di atas daun kelengkeng yang lebih banyak dan lebar. Kalau saya hitung dari bekas daun yang sudah dimakan kiar-kira sudah menghabiskan 4 helai daun jeruk, saya tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, bagaimana kalau daunnya akhirnya habis semua? Semoga selama dia nyaman disitu tidak ada yang mengganggu.

Minggu, 25 Januari 2015

Pantulan Keberhasilan

Orang bijak bilang , "hidup ini seperti roda yang berputar, kadang di atas kadang di bawah". Itulah dinamika kehidupan, selalu ada dua hal yang selalu silih berganti, ada siang ada malam, ada laki-laki ada perempuan, ada sedih ada gembira, ada kesulitan ada kemudahan, dan ada kalanya seseorang berada puncak kesuksesan ada kalanya jatuh di titik nadir. 
Rasanya tidak ada orang bisa berhasil tanpa melalui kegagalan. Seperti Einstein katakan, semakin sering kita mencoba maka semakin sering mengalami kegagalan, sedikit mencoba maka jarang mengalami kegagalan, tidak pernah mencoba maka tidak pernah gagal, tetapi apa yang diperoleh?. Tidak mendapatkan apa-apa. Oleh karena itu, kesulitan, rintangan, kegagalan atau kejatuhan adalah sebuah keniscayaan yang semua orang akan mengalami. Keberhasilan atau kesuksesan seseorang bukan pada seberapa besar hasil yang dicapai, bukan pada seberapa banyak hasil yang diraih, tetapi seberapa banyak masalah atau kesulitan atau rintangan atau cobaan yang telah berhasil diatasi. Dan, keberhasilan adalah bukan hasil akhir, melainkan sebuah proses, artinya keberhasilan  adalah sesuatu yang berproses berkembangan dan terus berjalan. Oleh karena itu, Steven Covey mengatakan, keberhasilan seseorang tergantung dari keberhasilan dan aktivitas sehari-hari. Jika dari hari ke hari seseorang telah  melaksanakan tugas dengan baik, terus menerus dan langgeng sudah barang tentu dia berhasil dalam hidupnya.

George S.Patton mengatkan, "aku tidak melihat seberapa tinggi kamu berhasil memanjat, tetapi yang aku lihat adalah seberapa tinggi kamu mampu memantul ketika terjatuh". Apa yang dikatakan Patton adalah untuk menunjukkan bahwa setiap orang pasti akan mengalami kejatuhan, dan semua harus bersiap untuk jatuh, kemudian segera bangkit dan melupakannya dan mencari inovasi baru untuk kembali memanjat. Orang dikatakan berhasil jika seseorang tersebut mampu memanjat lebih tinggi lagi setelah kejatuhannya. Seperti pegas atau per, semakin ditekan maka akan memberikan pantulan yang semakin tinggi. dan, semakin ditarik maka akan memberikan gaya dorongan yang lebih keras.
Oleh karena itu perlu kita belajar dari pegas atau per, yang mampu memantul dan mulur atau molor. Pegas memiliki sifat elastis. 

Dalam fisika, benda elastis mempunyai pengertian benda yang mampu berubah bentuk dan ukurannya ketika mendapatkan gaya, dan mampu kembali ke ukuran dan bentuk semula ketika gaya tersebut dihilangkan. Karet pentil jika ditarik akan molor semakin panjnag, tetapi jika gaya dihilangkan karet pentil akan kembali ke ukuran semula. Ketika kita duduk di sofa yang empuk, sofa tersebut akan mampat dan ketika badan kita angkat maka sofa akan kembali ke bentuk semula. Itulah benda-benda elastis. Pegas atau per demikian halnya, mampu memnjang jika ditarik dan mampu memendek jika ditekan, dan akan kembali ke bentuk semula jika gaya tarikan atau tekanan dihilangkan.
Dalam keadaan normal pegas berada pada ukuran sebenarnya atau keseimbangan. Jika pegas ditarik atau ditekan menyimpang dari keadaan seimbang, maka pegas menyimpan energi potensial. dan energi potensial ini akan dilepaskan untuk mendorong pegas mencapai keadaan semual. Semakin besar pegas menyimpang dari titik seimbang, maka energi potensialnya semakin besar yang berarti menyimpan potensi energi untuk bergerak lebih cepat. Seseorang semestinya mamiliki energi potensial ketika sedang terjatuh, dan hal itu menjadi potensi tersendiri untuk kembali bangkit dan memantul setingi-tingginya. Sehingga tidak ada alasan bagi seseorang untuk jatuh dan langsung hancur, dan menjadi tidak berguna. Hal itu sama halnya dengan benda keramik atau gerabah atau kaca, yang tidak memiliki sifat elastis sedikitpun. Indah di luar tetapi mudah hancur dan tidak mampu menyimpan potensi energi yang sewaktu-waktu dibutuhkan. Oleh karena itu mari belajar dari pegas atau per yang bersifat elastis, tahan banting, dan mampu bangkit dari berbagai macam tekanan 

Kamis, 15 Januari 2015

Hukum Thermodinamika Satu

Hukum kekekalan energi menyatakan bahwa energi itu kekal, tidak pernah habis. Energi hanya berubah dari bentuk energi yang satu ke bentuk energi yang lain. Matahari dianggap sebagai sumber energi utama menghasilkan panas, yang menyebabkan suhu di permukaan bumi meningkat di sebagian tempat, sehingga tekanan udara berbeda antara belahan bumi yang satu dengan yang lain, maka terjadilah aliran udara. Dalam hal ini energi matahari telah bertransformasi menjadi bentuk energi gerak, yang menggerakan material gas di atmosfer bumi. Banyak peristiwa-peristiwa lain yang berkaitan dengan energi mudah yang dipahami sebagai peristiwa yang di sebabkan dan diawali oleh energi matahari.

 Pada kejadian yang lebih spesifik, misalnya bensin. Bensin sebagai salah satu bahan bakar pada kendaraan bermotor, mampu melakukan pembakaran di dalam mesin, sehingga menimbulkan energi gerak pada motor. Gerak yang ditimbulkan bisa ditransformasi menjadi bentuk lai, misalnya menjadi energi listrik melalui alat dinamo atau generator. Setelah menjadi listrik bisa diubah ke berbagai bentuk energi lain sesuai yang diinginkan manusia - karena saat ini teknologi yang sangat maju - seperti, gambar atau visual, suara, atau gelombang elektromagnetik yang bisa ditransformasikan ke bentuk lain yang lebih canggih.

Khusus pada sistem gas di dalam ruang tertutup juga terjadi dinamika perubahan energi sebagaimana pada material yang lain. Di dalam sistem gas, gas juga mampu menyerap ataupun melepas energi (kalor), gas mampu melakukan kerja, dan gas juga bisa menambah energi potensialnya (energi dalam). Menurut hukum Thermodinamika ke satu, setiap energi yang diserap oleh sistem gas akan berpengaruh pada energi dalam atau pada kerja yang dilakukan oleh gas. Pada hukum thermodinamika, membahas dua hal penting yaitu energi dan kerja. Kerja yang dilakukan oleh gas tergantung dari energi yang diserap atau digunakan, atau diberikan kerja agar timbul energi. Di antara energi dan kerja terdapat energi dalam sistem gas, yang berpengaruh pada tingkat efisiensi dari sistem yang bekerja.

Sebagian energi yang diserap oleh sistem gas akan digunakan gas untuk menambah energi dalam (potensial), dalam bentuk panas (suhu tinggi). Jika terlalu banyak energi yang digunakan untuk menambah energi dalam, maka kerja yang dilakukan kecil. Artinya mesin bekerja tidak efisien, banyak energi yang terbuang menjadi panas di dalam mesin. Mesin yang bekerja dengan efisiensi yang baik, tidak banyak menimbulkan panas yang terbuang, perubahan energi dalam yang terjadi kecil, sehingga kerja yang dilakukan besar. Dalam bahasa yang sederhana, terjadinya efek panas yang berlebihan pada mesin itu menimbulkan mesin bekerja tidak efisien. Hal itu bisa terjadi karena, perangkat atau elemen sistem / mesin yang tidak bekerja dengan baik. Untuk meningkatkan efisiensi sistem, maka harus diperbaiki terlebih dahulu perangkat atau elemen-elemen penyusun sistem tersebut.

Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak terlepas dengan masalah efeisiensi dalam kegiatan atau aktivitas. Hukum thermodinamika telah mengajarkan, bahwa untuk meningkatkan efisiensi maka tidak boleh ada banyak energi yang hilang menjadi panas di dalam sistem. Ibarat sistem tuadalah tubuuh kita, maka setiap makanan - sebagai sumber energi - yang masuk ke dalam tubuh akan diolah oleh sistem tubuh menjadi bentuk energi. Ada beberapa orang yang memiliki efisiensi tubuh yang baik, setelah memakan makanan yang sesuai ia memiliki energi untuk berbagai aktivitas seharian. Sepanjang hari aktivitasnya tinggi, tidak tampak loyo, sehinga  produktivitasnya pun sangat bagus. Di satu sisi ada orang yang makannya banyak, hobinya makan, tetapi baru bekerja beberapa jam sudah mengantuk, baru menyelesaikan beberapa halaman laporan sudah minta istirahat. Jumlah energi yang masuk ke dalam tubuh sama, tetapi kerja yang dihasilkan bisa berbeda, berarti penambahan energi dalam yang berbeda terjadi pada tubuh mereka. Orang dengan efisiensi tubuh yang bagus, tidak banyak energi dalam yang tertimbun di dalam tubuh, semaksimal mungkin energi yang diserap dikonversikan menjadi energi. Sebaliknya, orang dengan efisiensi tubuh yang rendah, energi yang tertimbun di dalam tubuh (dalam bentuk lemak) lebih besar, sehingga energi yang dikeluarkan sangat kecil. Tidak heran, jika orang dengan tubuh seperti ini, semakin hari semakin tambun dan semakin sulit untuk diajak kerja keras yang memerlukan banyak energi.

Sebagaimana di dalam tubuh seseorang atau di dalam sistem mesin, di dalam sebuah lembaga pun berlaku hukum kekekalan energi seperti yang digambarkan di dalam hukum thermodinamika. Di dalam lembaga yang berorientasi pada laba (profit oriented) entu tujuannya adalah menghasilkan laba yang sebesar-besarnya. Sedangkan pada lembaga yang berorientsi pada pelayanan publik, maka pelayanan sebaik-baiknya pada masyarakat menjadi tujuan utama. Dengan sejumlah energi (modal) diharapkan hasil yang semaksimal mungkin baik laba ataupun kualitas pelayanan. Jika laba atau kualitas pelayanan yang diharapkan tidak terwujud, sudah barang tentu sistem yang ada tidak bisa bekerja dengan baik. Terjadi banyak distorsi energi yang semestinya dikonversikan menjadi energi, tetapi justru menjadi panas di dalam sistem. Panas di dalam sistem akan semakin panas dan merusak seluruh elemen yang berarti kerusakan akan semakin kompleks dan parah. Sebagaimana sistem mesin, maka elemen atau onderdil yang sudah usang harus diganti atau diperbaiki. Hal itulah yang mungkin akan dilakukan oleh Menteri Perhubungan untuk meningkatkan efisiensi dan meningkatkan kinerja di dalam tubuh Kementerian Perhubungan khususnya Perhubungan Udara. Sehingga diharapkan, menjadi lembaga yang profitable dengan tidak mengesampingkan kualitas pelayanandan tingkat keselamatan penumpang.

Sabtu, 01 November 2014

Pusaran Kehidupan

Setiap hari orang mencari nafkah dengan berbagai cara. Demi menghidupi keluarga semua hal dilakukan, bila perlu seluruh muka bumi dijelajahi. Bila tiba-tiba ketemu teman lama,
"nang endi ae rek gak pernah muncul?"
"golek umetan", jawaban yang mantap
Jawaban tersebut memberikan gambaran, betapa seseorang harus terus berupaya dan berjuang begitu keras, memutari atau mengelilingi pusaran nasib dan kehidupan - bahasa metafora karena tidak jelas pusat pusaran nasib itu dimana. Tetapi bisa dipahamai, bahwa memang seseorang selama hidup dikandung badan akan terus beraktivitas, yang berpusat pada cita-citanya, keinginannya, tujuannya, dan cintanya. Demi itu semua orang rela berangkat pagi pulang sore, berangkat ke utara atau timur pulang dari selatan atau barat, berangkat rapi dan necis pulang kumal, semua terjadi akibat seharian berputar mengelilingi seantaro harapan di muka bumi.

Di dalam teori fisika, benda yang bergerak diantara satu titik pusat tertentu dan mengambil jarak yang tetap pada titik tersebut di sebut gerak melingkar. Setiap benda yang bergerak melingkar akan mengalami gaya yang arahnya mengacu keluar dari pusat lingkaran yang disebut gaya sentrifugal. Rasakan ketika anda bermain coaster - roller coaster, jet coaster atau coaster2 yang lain - pada setiap puatara anda akan merasakan seolah akan dilempar keluar. Atau yang sering kita alami, jika kita mengendari mobil dan berbelok pada tikungan, maka kita akan merasakan gaya yang mendorong kita keluar tikungan. Jika kita belok ke kiri kita serasa akan dilempar ke kanan dan sebaliknya. 

Besarnya gaya sentrifugal sebanding dengan massa benda, kuadrat kecepatan, dan berbanding terbalik dengan jari-jari kelengkungan lintasan. Benda yang massanya besar akan mengalami gaya yang paling besar, benda yang berputar lebih cepat akan mengalami gaya lebih besar, dan benda yang berputar dengan jari-jari kecil atau dekat dengan pusat akan mengalami gaya yang semakin besar. Gaya sentrifugal tersebut akan diimbangi oleh gaya yang menarik lingkaran, tergantung kejadian gerak melingkar - bisa gaya tegangan tali, bisa gaya normal bidang, gaya gravitasi, dan lain lain - gaya itu disebut gaya sentripetal. Selama gerak melingkar tersebut berlangsung, maka benda dikatakan dalam keadaan stasioner, dimana antara gaya sentrifugal dan gaya sentripetal seimbang. 
Dari teori di atas, bisa diambil pelajaran fisika kebijaksanaan. Setiap orang bergerak dan beraktivitas kesana-kemari terikat oleh satu ikatan berupa keinginan, hasrat dan cita-cita serta cinta, yang menyebabkan seseorang akan berputar-putar di muka bumi, seperti benda yang bergerak melingkar. Sehingga mau tidak mau - sesuai hukum fisika - ia akan mengalami gaya sentrifugal. Gaya ini - penuh resiko - yang bisa membahayakan dirinya jika tidak mampu mengendalikan kelajuan dan jarak dari pusat pusaran. Gaya ini akan terus mendorongnya ke luar lintasan bahkan lepas samam sekali dari ikatannya. Besarnya gaya ini tergantung dari seberapa besar kita, seberapa besar laju aktivitas kita, sebreapa dekat kita dengan pusat pusaran. 
Semakin besar seseorang, artinya usaha dan aktivitas yang dilakukan semakin besar, maka gaya tersebut semakin besar pula. Sehingga para pembesar, seperti pejabat, orang-orang terkenal - dari kalangan apapun , orang kaya, orang kuat, akan gaya sentrifugal yang lebih kuat daripada orang-orang kecil.
Semakin besar kelajuan aktivitasnya yang berarti pergerakan yang dilakukan memiliki laju yang sangat besar resiko terlempar oleh gaya sentrifugal akan semakin besar. Orang-orang dengan kegiatan yang padat dari pagi hingga malam, pagi di Surabaya sore harus sudah di Banjarmasin, siang di Bali, sorenya memberi seminar di Bandung, tergolong orang-orang dengan kalajuan aktivitas yang besar.
Pusat pusaran adalah titik pusat dimana seseorang akan berusaha sekuat tenaga menuju ke titik tersebut, namun tidak serta merta orang bisa mencapai titik itu. Karena seseorang harus mengitari dengan sabar dan ketekunan - tidak bisa dengan cuma-cuma menujunya - sehingga setiap upaya mendekatinya akan menyebabkan dorongan untuk terlempar keluar semakin besar. 

Tuhan menciptakan segala sesuatu di jagat raya dengan kesimbangan penuh, salah satunya dengan mengatur sistem tersebut dengan perputaran atau rotasi. Oleh karena itu tidak penting bagi seseorang untuk berada di posisi yang mana, mau dekat dengan titik pusat atau jauh dengan titik pusat, tetapi yang penting adalah bagaimana seseorang harus bisa menjaga kesimbangan antara gaya yang menarik ke pusat dan gaya yang mendorongnya keluar. Hal itu bisa dilakukan dengan menjaga dan mengatur irama perputarannya (rotasi), jika kita merasakan gaya yang terlalu besar yang akan menyebabkan kita keluar lintasan (eksitasi), bisa mengurangi laju atau mengurangi kebesaran diri, atau menjaga jarak dari pusat pusaran. Sebaliknya, jika gaya yang menarik kita ke pusat terlalu kuat, bisa dimbangi dengan menambah kelajuan atau massa, atau mendekat ke pusat pusaran.

Setiap hari kita bergerak, setiap hari kita beresiko terpeleset keluar rel kehidupan kita. Oleh karena itu pandai-pandainya kita menjaga kesimbangan antara gaya sentrifugal dan gaya sentripetal kita masing-masing.

Minggu, 05 Oktober 2014

Bernoulli Kehidupan


Bernoulli menganalisis fluida yang mengalir dalam sebuah pipa melalui pendekatan hukum kekalan energi. Berdasarkan konsep bahwa energi itu tetap, hanya berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain, formula Bernoulli telah banyak mengilhami berbagai teknologi modern. Konsep penting yang dikemukakan Bernoulli pada aliran fluida ideal yang datar atau horisontal adalah perbedaan tekanan antara dua titik mempengaruhi kecepatan aliran.  Dengan kata lain - ini yang sering tidak diduga oleh banyak orang - semakin kecil penampang aliran maka kecepatan aliran semakin besar dan tekanan semakin kecil.

Kalimat penting yang harus menjadi perhatian adalah semakin tinggi kecepatan aliran fluida, maka tekanan semakin kecil, tetapi tidak berlaku kebalikannya, tekanannya diperkecil agar terjadi aliran yang lebih cepat - karena penampang pipa tidak bisa diubah-ubah. Konsep ini yang mendasari berbagai fakta di sekitar kita, seperti pembuatan sayap pesawat, semprotan atau spray obat nyamuk atauyang lainnya, tendangan David Beckham, dan lain-lainnya.


Apa hubungannya dengan kehidupan sehari-hari?.
Adakalanya, diantara kita pernah mengalami yang namanya tertekan atau stress, anak sekarang mengatakan "galau". Tekanan yang kita alami dan rasakan kadang cukup berat, terkadang ringan, atau mungkin sedang-sedang saja. Jika menganalogikan dengan hukum Bernoulli, besar kecilnya tekanan yang kita alami bergantung pada kecepatan kita dalam mengalirkan segala permasalahn kehidupan yang kita hadapi. Apakah kita mampu menyelesaikan segala beban dan tugas dengan lancar ataukah lambat ataukan justru malah berhenti, hal itu yang berpengaruh terhadap seberapa berat tekanan dan beban hidup yang kit atanggung. Jika kit amampu dengan cepat dan lancar menyelesaikan berbagai tugas, maka tekanan itu kecil. Sebaliknya ,jika  kita lambat dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang menjadi beban tugas kita, maka tekanan itu akan semakin besar, dan terasa berat. 
Selama hayat dikandung badan, maka permasalahan hidup dan beban hidup yang menimbulkan tekanan tidak akan hilang. Jika menilik dari prinsip Bernaoulli, justru tekanan itulah yang menyebabkan segala sesuatu mengalir. Dan, orang hidup haruslah terus bergerak, terus mengalir, jangan berhenti karena hal itu menyebabkan ketidakseimbangan - begitu kata Einstein. Oleh karena itu jangan alergi atau jangan tidak mau menghadapi tekanan, karena jika tidak ada tekanan kita tidak mungkin mengalir, kita akan berhenti - jegrek!
Mari nikmati hidup, mari terus bergerak, lebih cepat lebih cepat dan lebih cepat, agar beban hidup ini semakin ringan.

Selasa, 30 September 2014

Elastis : Stress - Strain - Stroke

Benda elstis atau lentur adalah benda yang jika dikenai gaya akan berubah bentuk dan atau ukurannya, ketika gaya tersebut dihilangkan, benda akan kembali kepada bentuk semula. Material dengan bahan dasar karet adalah salah satu contohnya. Karet jka ditarik akan molor panjang, dan begitu tarikannya dihilangkan kembali ke ukuran semula. Atau kursi empuk, sebelum kita duduki tebalnya 30 sentimeter, setelah badan kita hempaskan, ketebalannya tinggal 10 cm, tetapi begitu kita tinggalkan kursi mengembang kembali seperti semula. Itulah gambaran benda-benda elastis.

Dalam fisika, besaran yang menunjukkan keelastikan suatu bahan adalah stress (tegangan), strain (regangan) dan modulus (kekenyalan). Stress atau tegangan adalah besarnya beban per satuan luas yang diterima suatu benda. Setiap benda elastis yang mendapatkan stress akan mengalami strain atau regangan. Regangan adalah perbandingan antara perubahan panjang – akibat stress – dengan panjang asalnya (mula-mula). Semakin lentur benda, maka regangannya semakin tinggi, semakin mampu berubah bentuk dan kembali ke bentuk semula. Jika karet ditarik sampai jauh tanpa putus dan mampu kembali seperti semula.


Beban yang dialami seseorang dalam hidup menyebabkan seseorang – mau tidak mau – stress, tegang. Tetapi sebaiknya jadilah orang yang mampu berlapang dada (untuk memperluas permukaan bidang stress), dan yang lebih penting adalah jadilah elastis – jangan kaku. Stress sehari-hari tidak mungkin dihindari, tetapi bagaimana kita harus mampu mengelolanya dan memberdayakannya. Bagi orang yang mampu bersikap elastis, maka tatkal stress begitu kuat melanda, dia hanya perlu bertahan, meskipun hal itu menyebabkan jiwanya ‘pendeng’, tetapi tidak rusak sama sekali. Dan ketika segala persoalan telah berlalu, maka akan kembali lagi seperti sedia kala seperti tidak terjadi apa-apa. Ketika di kantor begitu banyak persoalan, maka diselesaikan, dikerjakan satu per satu hingga selesai. Tentu membuat badan lelah, pikiran terforsir, tenaga terkuras, tidak masalah ‘pendeng’ untuk sementara waktu. Begitu semua selesai, dan tiba waktunya pulang, sampai di rumah ‘normal kembali’ menyapa anak istri dengan baik, seperti tidak terjadi apa-apa.

Hal yang berbeda terjadi pada orang yang tidak mampu elastis jiwanya. Begitu banyak masalah di tempat kerja, pikiran terforsir, badan lelah, tegang, sekian banyak perkerjaan menyebabkan jiwanya ‘remuk’. Sepulang dari tempat kerja, bertemu dengan keluarganya, masih terbawa suasan tegang di kantor, jiwanya tidak mampu kembali ke bentuk semula. Maka ketika dipicu sedikit masalah di rumah yang terjadi adalah kemarahan hebat, jiwanya ‘pecah’ – stroke.
Itulah bedanya yang elastis dan yang tidak elastis, bedanya karet dengan keramik. Bahan karet jika terkena beban akan ‘pendeng’ tetapi dapat kembali ke bentuk asal, tidak rusak dan tidak pecah. Ada stress, maka strain. Tetapi bahan dari keramik atau kaca, mungkin lebih kuat, tetapi bila terkena beban yang melebihi batas, akan langsung rusak, pecah. Terkena stress , maka menjadi stroke

Sabtu, 27 September 2014

Mengapa Bias Sinar

Maksudnya adalah sinar cahaya atau berkas arah rambatan cahaya. Cahaya adalah gelombang elektromagnetik, seihngga akan mengalami gejala-gejala seperti yang dialami oleh gelombang yang lain, termasuk pembiasan (difraksi)

Pembiasan adalah gejala berubahnya arah rambatan cahaya atau berbeloknya arah rambatan, karena melewati medium yang berbeda indeks biasnya. Misalnya, cahaya dari udara masuk ke dalam air, indeks bias yang berbeda antara air dan udara, menyebabkan arah rambatan cahaya berubah atau berbelok, sehingga pandangan mata kita sering tertipu oleh pemandangan yang ada di dalam air – akuarium atau kolam renang – nampaknya dangkal ternyata dalam, nampaknya di pinggir ternyata masih di tengah. Kilauan batu berlian, terjadinya efek fatamorgana di siang hari yang terik, juga merupakan gejala yang terjadi karena peristiwa pembiasan cahaya

Setiap orang memiliki pandangan, atau prinsip untuk menempuh dan menjalani hidup sendiri-sendiri. Akan dibawa kemana arah perjuangannya, akan dibawa seberapa cepat gerakannya, masing-masing orang berbeda. Karena memang setiap orang memiliki karakter, dan gaya yang tidak sama, tetapi setiap orang pasti akan bergerak kea rah tertentu. Dan, setiap orang akan bergerak dari satu tempat ke tempat lain yang berbeda-beda kondisinya. Misalnya, dari desa ke kota, tentu kondisinya sangat berbeda jauh, atau dari profesi sebagai karyawan ke profesi menjadi pengusaha, atau bergerak dari bekerja sebagai artis berubah menjadi wakil rakyat. Setiap perubahan medan atau medium tempat berkiprah akan membawa dampak pada arah pergerakan. Seperti halnya peristiwa pembiasan cahaya, maka arah pergerakan seseorang yang menembus medium yang berbeda, sedikit banyak akan mempengaruhi – merubah – arah jalan hidupnya

Kamis, 25 September 2014

Tegangan atau Stress

Anak-anak remaja akrab dengan keluhan, "stres aku...". Sekarang lebih sering menggunakan istilah 'galau'. Semua ditujukan untuk menyatakan kondisi pikiran yang berat, banyak masalah yang menjadi beban pikiran yang tidak terpecahkan. Semua orang - normal - akan mengalami kondisi 'stres' atau tegang, ketika beraktivitas sehari-hari. Stres adalah gejala normal pada setiap orang, hal itu merupakan gejala psikologis biasa yang kadang muncul dan akan hilang dengan sendirinya, dengan berlalunya berbagai persoalan. 

Hal yang lebih penting adalah mengelola stres, bagaimana stres tidak membuat orang hilang kendali, tetapi justru bagaimana stres mendorong seseorang untuk bisa meningkatkan produktivitasnya. Orang yang mampu mengendalikan stres dan mentransformasikan menjadi bentuk energi lebih untuk berbuat yang lebih baik dan lebih bayak itulah yang dikenal sebagai manajemen stress. Pada era sekarang, banyak dicari atau dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kecerdasan emosinal bagus, yang mampu bekerja dalam kondisi stres tinggi.

Stress artinya tegang, orang yang mengeluh stress berarti sedang mendapat beban pikiran. Dalam fisika besarnya stress atau ketegangan didefinisikan sebagai besarnya gaya per satuan luas. Jika dituliskan dalam rumus P = F/A. Dengan F adalah gaya, A adalah luas penampang, P adalah besarnya tegangan. Dari rumus tersebut bisa diterjemahkan, jika F (gaya) atau tegangan besar menyebabkan tegangan semakin besar, dan jika F nya kecil maka tegangan P juga kecil. Berbeda dengan A (luas), berbanding terbalik dengan P (tegangan). Jika A nya besar maka tegangan P kecil, sebaliknya jika A nya kecil, maka tegangannya besar.


Dari rumus tersebut, menjadi jelas, bagaimana seharusnya mengelola stress, bagaimana mengurangi besarnya ketegangan dalam diri kita. Stress atau besarnya tegangan dapat dikurangi dengan cara : 1) mengurangi beban F, bisa berarti mengurangi beban tugas, pekerjaan, atau maslah lain. Yang kedua 2) dengan memperbesar A (luas penampang), yaitu jadilah orang yang berlapang dada, beberbesar hati, maka tegangan akan berkurang. Sebaliknya jika kita bersempit dada, hanya akan membuat tegangan (stress) semakin besar.

Usaha

Usaha adalah upaya atau ikhtiar, yaitu berjuang untuk mendapatkan sesuatu. Agar usaha bisa berjalan maka membutuhkan energi, dalam pengertian umum energi bisa berupa modal - uang - juga bisa berupa tenaga dan perangakt atau perlengkapan.

Dalam ilmu fisika, usaha didefinisikan sebagai hasil kali titik (dot product) antara vektor gaya dan vektor perpindahan. Besarnya usaha tergantung dari besarnya gaya dan besarnya perpindahan, dengan syarat antara gaya dan perpindahan searah - membentuk sudutnya nol. Jika arah gaya tegak lurus perpindahan, maka usahanya nol. Sedangkan, jika arah gaya berlawanan dengan arah perpindahan maka usahanya negatif.

Setiap orang mempunyai tujuan, dan akan berusaha mencapai tujuan, oleh karena itu setiap orang akan selalu berjuang dengan berikhtiar melakukan usaha. Sesuai dengan konsep fisika, maka orang yang berusaha atau berjuang harus men-selaraskan antara aksi yang dilakukan dengan arah tujuannya. Jika arah tujuannya tidak sesuai dengan aksi yang dilakukan, maka usahanya tidak berarti, usahanya sia-sia, tidak bernilai. Misalnya, jika orang ingin menjadi kaya, kemudian dia berbuat dan bergaya hidup boros - sesuatu yang berlawanan - maka usaha yang dilakukan bernilai negatif, yang berarti akn merugi (cos 180 = -1). Demikian halnya jika, aksi yang dilakukan tidak searah - tegal lurus - maka usahanya akan benilai nol. Misalnya, seorang anak ingin prestasinya di sekolah baik, lulus dengan sangat memuaskan, tetapi aksi yang dilakukan hanya sibuk dengan organisasi politik. Maka hasilnya adalah usaha meraih prestasi nol, yang mugkin didapat adalah usaha menjadi tokoh politik.

Penting bagi kita untuk mendefinisikan tujuan hidup kita dengan jelas, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Kemudian selaraskan aksi yang kita lakukan dengan tujuan tersebut, jangan sampai arah yang kita ambil tidak searah dengan tujuan yang telah jelas didefinisikan. Ingat cosinus 0 = 1, itulah nilai maksimum dari cosinus, yang artinya antara tujuan dan arah perjuangan kita harus searah.

Selasa, 23 September 2014

Agar Seimbang Perhatikan Momentum Sudut

Albert Einstein pernah bilang, hidup seperti naik sepeda berjalanlah terus agar seimbang. Kita semua pasti pernah merasakan naik sepeda - nyetir sepeda - kalau pelan-pelan maka sepeda kita akan menjadi tidak seimbang dan jatuh. Seperti orang yang berlomba sepeda lambat, bergerak selambat mungkin tanpa jatuh. Dari situ terlihat, semakin lambat, maka keseimbangan semakin labil ,semakin mudah jatuh. Sebaliknya jika kecepatannya besar - melaju terus - maka sepeda akan lebih stabil dan tidak gampang jatuh.

Ikutilah saran Einstein - bukan tentang naik sepedanya - tetapi tentang keseimbangan dalam hidup. Bahwa orang hidup harus terus bergerak, terus berjalan, dan semakin jauh, jangan pernah berhenti jika tidak ingin jatuh. Hidup itu bergerak bersama waktu, dari waktu ke waktu ada berbagai hal yang perlu dilakukan dan ada berbagai masalah yang harus diselesaikan, berbagai keputusan yang segera diambil, agar semuanya tetap dan terus berjalan. Jika kita berhenti pada masalah tertentu dan tidak mau lagi untuk melanjutkan, maka tunggu saja kejatuhannya. 

Memang setiap orang akan bergerak, akan berkembang, dengan kecepatan yang berbeda-beda, ada yang cepat ada yang lambat. Kita tidak boleh membandingkan laju masing-masing dari kita, apakah kita lebih lambat dari teman kita atau lebih cepat. Karena yang penting adlah terus bergerak, sehingga tetap dalam keadaan stabil.


Rahasianya adalah momentum sudut. Setiap benda yang berputar atau berotasi, memiliki momentum sudut yang mempunyai arah tertentu, yaitu tegak lurus dengan bidang rotasi. Roda sepeda yang berputar dengan bidang putar vertikal, maka momentum sudut mendatar tegak lurus bida rotasi. Arah momentum sudut itu yang menjaga posisi roda sepeda tetap berdiri tegak. 


Contoh lain adalah pada gasing. Gasing yang diputar dengan putaran yang tinggi, menyebabkan arah momentum sudut menjaga tetap pada posisi berdiri. Semakin tinggi kecepatan gasing, maka momentum sudut semakin besar dan arah momentum sudut semakin stabil, sehingga gasing tidak jatuh. Begitu kecepatan gasing hilang, maka momentum sudutnya juga hilang dan tidak ada lagi yang menjaga gasing untuk tetap berdiri.

Senin, 22 September 2014

Keseimbangan untuk Menghasilkan Jarak Maksimum

Dalam jiwa setiap orang yang ingin menggapai sukses dalam hidup akan ditemui dua arah / dimensi perjuangan atau usaha untuk membangun pondasi kesuksesan dalam hidup. Pertama, memperbanyak amal, kegiatan, dan aktivitas, untuk meningkatkan produktivitsa, memperluas jaringan ataupun memperbesar brand image. Kedua, memperbesar intensitas ibadah, meningkatkan frekuensi dan kualitasnya, untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.  Kedua hal itu adalah sesuatu yang normal dan umum yang dilakukan oleh seseorang.

Namun sering juga ditemui bentuk pemikiran yang menganggap terlalu dalam beribadah hanya akan mengurangi kesempatan atau peluang untuk meraih untugn yang lebih banyak. Memperbanyak ibadah akan mempersempit ruang gerak dan jaringan sehingga menghambat perkembangan usaha. Bukan mengesampingkan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, tetapi hal itu cukup dilakukan seperlunya, secukupnya, yang penting tidak secara nyata mengingkari keberadaan Tuhan. Sementara usaha membesarkan usaha, meningkatkan produksi, adalah yang paling utama.

Sebaliknya, ada yang menganggap usaha yang dilakukan manusia itu tidak apa apanya jika Tuhan tidak menghendaki. Oleh karena itu, bekerja, beraktivitas, mengembangkan usaha, itu cukup dilakukan seperlunya, yang utama adalah mendekatkan diri kepada Tuhan, memohon keridhaanNya. Karena, jika Tuhan menghendaki kita berhasil, maka Tuhan akan tunjukkan jalan bagaimana agar kita berhasil. Jika dengan ibadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan, ternyata masih belum berhasil, berarti Tuhan belum berkehendak.
Lantas bagaimana seharusnya?

Dua pemahaman seperti di atas sejak dahulu sudah ada, yang pertama mengandung unsur aliran qodariyah dan yang kedua mengarah pada aliran jabariyah. Aliran qodariyah memandang bahwa jika manusia menginginkan sesuatu, maka harus diperjuangkan. Berhasil apa tidaknya perjuangan sepenuhnya ada pada manusia itu, semakin ia berupaya keberhasilan dekat, sebaliknya semakin kecil upaya yang dilakukan maka keberhasilan jauh. Sepenuhnya apa kata manusianya. Sebaliknya, aliran jabariyah percaya sepenuhnya kepada takdir Tuhan, sepenuhnya apa kata Tuhan. Jika Tuhan menghendaki seseorang akan sukses, maka suksesla dia, dan jika Tuhan tidak berkehendak seseorang tidak berhasil, maka berusaha sebesar apapun tidak akan sukses. Manusia hanya perlu berdoa, memohon dan mendekatkan diri, dan menunggu apa yang akan ditakdirkan oleh Tuhan.

Kedua pemikiran tersebut sama-sama mempunyai dasar dan bisa diterima akal sehat - utamanya bagi orang yang ber-Tuhan. Berusaha adalah kewajiban manusia, sebagaimana banyak diceritakan dan diperintahkan kepada manusia untuk melakukan jihad atau berjuang atau maknanya berusaha keras dan bersungguh-sungguh. Sebaliknya, banyak juga dikatakan bahawa, Tuhan akan memberi kepada siapa yang dikehendaki dan tidak memberi kepada yang tidak dikehendaki. Bahwa Tuhan itu berkuasa mutlak itu adalah benar, dan manusia adalah diberi kemampuan berusaha itu hal yang semestinya. Dalam bahasa awam sering kita dengar, "manusia berusaha Tuhan yang menentukan", memang demikian adanya. Dalam ayat lain dalam kitab suci alqur'an dikatakan bahwa manusia tidak akan memperoleh selain yang diupayakan. Maka menyeimbangankan diantara keduanya adalah sesuatu yang bijaksana. Tidak mungkin manusia mengandlakan usahanya sendiri sementara kekuasaan Tuhan atas dirinya diabaikan, tidak benar jika manusia hanya menunggu apa yang akan terjadi pada dirinya, sementara Tuhan menganugerahi dengan kemampuan berbuat sesuatu.

Dalam ilmu fisika, untuk mencapai jarak lemparan maksimum atau terjauh - pada gerak parabola - maka sudut elevasi harus seimbang antara vertikal dan horisontal, yaitu 45 derajat. Dengan seimbang antara arah kecepatan awal pada sumbu-x dan pada arah sumbu-y, maka akan dicapai jarak terjauh. Oleh karena itu adalah penting untuk memandang keseimbangan antara vertikal dan horisontal. Menyeimbangkan antara kepentingan vertikal - kepada Tuhan - dengan kepentingan horizontal - dengan sesama manusia.

Sabtu, 20 September 2014

Ayo Ber-olahraga


Selamat pagi, mumpung masih pagi. Kalo pagi begini banyak orang berolahraga, "biar sehat", begitu katanya. 

Tetapi ada juga orang berolahraga, tapi lupa tujuannya, "lho kok bisa". Orang-orang yang sudah terbiasa olahraga, atau yang hobi banget olahraga tertentu cenderung melakukan itu sembarangan, baik cara maupun waktu. Contohnya, pada komunitas penggemar tennis atau bulutangkis, mereka mengajak temannya bermain tidak melihat waktu dan kepentingannya, "ayo cari keringat". Hanya untuk mengisi waktu dan mencari kesenangan. Kalo pak Tejo - mantan pelatih volley jatim - yang dengar, akan dijawab begini, "ayo ke rumah saya saja bantu2 ngangkati boto, di rumah sedang betulin rumah, dijamin 15 menit kemringet".

Sebetulnya tidak terlalu buruk jika bermainnya alakadarnya, karena daripada bengong tidak ada yang dikerjakan, dan orang jika butuh rekreasi. Tetapi yang perlu diingat, kalo sudah di lapangan orang cenderung lupa dengan rangsangan2 atau target, bahkan tidak jarang taruhan - meskipun cuma 1 botol pocari - yang dapat memacu adrenalin.

Ketika orang berolahrag dengan adrenali yang tinggi, seperti pada pertandingan resmi, banyak energi terkuras baik fisik apalagi psikis. Sehingga hal itu harus dilakukan dengan cara yang benar dan saat yang tepat, kapan perlu dilakukan, berapa lama recoverynya, apa menu makannya, dan seterusnya. Hal itu yang dilakukan olahraga profesional.


Sedangkan orang awam biasanya sembarangan, asalkan berkeringat dianggapnya sehat. Berkeringatnya orang berolahraga - yang dilakukan dengan benar - dengan pekerja bangunan adalah berbeda. Apa bedanya?. Pekerja bangunan berkeringat karena banyak mengelurkan energi untuk mencapai tujuannya memindahkan batu bata. Sedangkan orang berolahraga, menggerakkn seluruh anggota tubuh supaya berkeringat sebanyak-banyaknya. Orang berolahraga akan berhenti pada durasi waktu tertentu - sesuai ukuran - setelah gerakan telah lengkap dilakukan.

Prof. Hiromi Sinya, mengatakan olahrga yang berlebihan mengakibatkan banyak radikal bebas dalam tubuh. Salah satunya adalah jika hal itu tidak dilakukan dengan tepat. Sudah waktunya berhenti, karena diejek teman akhirnya main lagi, akhirnya kelelahan berlebihan. Sebagai kompensasi dari permainan yang berat - karena lawannya kuat - habis main cari makanan yang enak2, terus rokokan, dan menjadi berlebihan.
Sekali lagi mumpung masih pagi, ayo olahraga biar sehat, "cari sehat bukan cari keringat". Selamat berolahraga bersama keluarga dan kawan.

Minggu, 29 Desember 2013

Menuju Puncak Ijen

Wisata kawah, atau gunung, merupakan wisata yang sangat menarik, indah dan juga menantang. Sehingga tidak sedikit kawah-kawah di Indonesia menjadi destinasi favorit untuk berwisata, sebut saja : bromo, tangkuban perahu, kawah putih, kelud, telaga tiga warna, dan tentunya ijen. Karena kawah selalu berada di puncak gunung maka untuk mencapainya harus bersusah payah mendaki, hal itulah yang merupakan tantangan berat sebelum bisa menikmati keindahan panoramanya.
Gunung Ijen berada tepat di wilayah perbatasan Banyuwangi dan Bondowoso, sedangkan kawahnya sendiri masuk wilayah Bondowoso. Namun begitu, di sepanjang rute jalan setapak menuju puncak, kita akan sering keluar masuk wilayah Banyuwangi - Bondowoso. Di pos masuk merupakan wilayah Banyuwangi bergeser ke belakang pos,  di lapangan tempatnya para pendaki mendirikan tenda adalah Bondowoso. Demikian juga ketika mulai naik ada tapal batas kedua wilayah, karena jalan berkelok-kelok maka berkali-kali menemui tapal batas serupa yang berarti kita akan keluar masuk kedua wilayah tersebut.
Untuk mencapai kawah belerang yang sangat termashur itu, bisa melalui jalur Bondowoso ataupun dari jalur Banyuwangi, kedua-duanya bisa dengan mudah mencapai pos akhir sebelum mulai pendakian. Saya sendiri berangkat dari kota Banyuwangi, mengendarai mobil pribadi bersama keluarga, dan ternyata bisa mencapai pos di Paltuding dengan cepat dan mudah. Awalnya, dari informasi yang saya dapat, dari internet, kawan, dan karyawan hotel tempat menginap, untuk mencapai puncak Ijen itu susah dan harus dengan kendaraan khusus dan bila perlu pemandu khusus. Ternyata tidak, dengan tekad bulat, saya hanya mengandalkan tanda penunjuk arah 'plang hijau' di tiap perempatan jalan dan belokan yang menunjukkan arah ke kawah ijen. Dan ternyata penunjuk arah itu sangat akurat, jelas dan sangat membantu.
Saya berangkat dari kota Banyuwangi kira-kira pukul sembilan pagi, sempat mampir ke desa wisata Osing, kemudian ke Perkebunan Kali Bendo hingga mencapai wilayah Kecamatan Licin. Untuk mencapai Licin bisa melewati jalur lain yang lebih bagus dari kota banyuwangi, dan itu jalur yang resmi seperti ditunjukkan 'plang hijau'. Dari Licin semua tanda arah menuju kawasan Ijen sangat jelas dan tinggal mengikuti saja. Jalur ini beraspal dengan kualitas cukup bagus, hanya memang tidak terlalu lebar sehingga bila berpapasan dengan mobil lain harus pelan-pelan. Jalur ini akan berakhir atau finish di Paltuding, pos akhir dan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Sepanjang jalur dari Licin sampai Paltuding merupakan kawasan hutan kurang lebih sejauh 17 kilometer, sedikit menanjak dan jalannya berkelok-kelok. Bagi yang menyukai tantangan, jalur ini akan sangat menyenangkan, karena kelokan-kelokannya, dan tanjakan serta aspalnya yang bagus dan rata. Beberapa kali saya berpapasan dengan mobil lain, dan juga beberapa sepeda motor. Pada awal baru masuk kawasan hutan, saya sempat ngeri, karena tampak sepi, tidak ada kendaraan satupun di depan atau di belakang saya. Setelah sepuluh menitan bergeser masuk ke kawasan utan lebih dalam, saya mulai bertemu pengendara lain. Tepat jam setengah sebelas saya sumringah, karena telah mencapai finish di Paltuding.
Dari sinilah awal penderitaan itu dimulai, setelah membayar tiket masuk yang teramat murah dua ribu rupiah per orang - kelihatannya tidak membayarpun tidak akan ada yang tahu - kami berempat mulai bersiap-siap naik ke puncak. Dengan penuh semangat dan rasa percaya diri tinggi kami mulai melangkah naik, sepuluh meter, dua puluh meter, seratus kilometer, "aduh...sebentar istirahat", istri saya tidak kuat dan meminta waktu sebentar. Bagi anak-anak saya yang masih belasan tahun rute itu sama sekali bukan masalah, tetapi bagi orang seusia saya yang sudah hampir lima puluh tahun, tanjakan itu sangat berat, apalagi bagi perempuan - ibu ibu.
Untuk mencapai kawah di puncak Ijen harus melewati jalan tanah berpasir kasar itu sejauh tiga kilometer, dengan kemiringan tanjakan sepuluh sampai dua puluh derajat - hanya di kilometer kedua yang cukup berat dengan tanjakan kira-kira empat puluh lima derajat. Dengan kondisi jalan yang naik, dan berkelok, istri saya butuh istirahat tiap sepuluh sampai dua puluh meter. Tidak sedikit para pendaki lain - para orang tua dan ibu ibu - yang harus menyerah dan kembali turun. Namun begitu, banyak juga yang berhasil mencapai puncak dan kembali turun, yang memberikan semangat kepada kami untuk terus mendaki dan berjuang sampai atas.
Meskipun tertatih-tatih, kami tetap bergerak, semakin naik sedikit demi sedikit. Istirahat sejenak, berjalan lagi, dengan dibantu tongkat kayu alakadarnya - sekedar menemani bersusah payah - akhirnya sampai di kantin untuk bisa sejenak beristirahat. Ternyata, keberadaan kantin ini seperti menipu - karena seolah sudah sampai atau sudah dekat, ternyata itu baru kira-kira separo perjalanan - padahal capeknya yang dirasakan istri saya bukan main. Hanya semangat dan kemauan yang mendorong untuk terus bergerak, kali ini ternyata tanjakannya semakin parah, di tikungan yang diberi trap itu, istri saya harus satu persatu menaiki trap. Kami sempat disalip atau didahului dua turis asing - masih muda - yang naik sambil terus berlari. Mendekati puncak pemandangan semakin bagus, dan kami semakin semangat dalam kelelahan yang membelit sekujur tubuh. Tak bisa dibayangkan seperti rasa capeknya para kuli pengangkut batu belerang itu, yang naik kemudian turun dengan memikul belerang seberat 70-80 kilogram.
Akhirnya semakin di atas jalan semakin rata dan pemandangan semakin menakjubkan, panorama yang tidak akan saya jumpai jikalau saya tidak naik ke atas sini - Puncak Ijen. Setelah kira-kira dua jam mendaki kami mencapai puncak dan melihat kawah menganga dan mengepul, kami bersyukur, bergembira, kemudian duduk 'nglepos' di tanah berpasir, membiarkan tubuh kami yang lelah dikotori tanah dan pasir. Kami melihat sekeliling, benar-benar kami berada di puncak gunung, luar biasa. Pemandangan alam yang sulit digambarkan dan diceritakan, karena jika saya menceriterakan dengan kesan utuh yang saya dapat, saya lihat, dan saya rasakan, tentu kesan yang ditangkap pembaca akan sangat berbeda, karena hanya membaca tanpa merasakan penderitaan untuk mencapai itu. Intinya adalah kalau ada waktu, kesempatan, dan energi lebih tidak akan rugi jika anda mencoba ke sana.